Sejarah dan Strategi Pergerakan PMII

Juni 18, 2009 at 8:00 pm 1 komentar

Sekilas Sejarah Pergerakan PMII

Refleksi Pergerakan Mahasiswa

Ketika perjuangan pembebasan rakyat melalui parlementer mengalami kelemahan, maka perjuangan ekstra parlementer menjadi penting untuk mendorong rakyat secara langsung berpartisipasi untuk mengadakan perubahan. Kita melihat sendiri bagaimana kemandulan parlemen mulai dari masa kampanye hingga pasca pemilu justru membuat rakyat terilusi dengan figur dan kharisma seseorang daripada kritis pada program politiknya. Politik populisme (budaya politik parokial) seperti ini hanya menjadikan rakyat sebagai penonton dalam setiap kebijakan-kebijakan ekonomi-politik yang menyangkut hajat hidup rakyat.

Kemenangan kecil rakyat yang anti-kediktatoran (sekaligus kelemahan strategis gerakan mahasiswa) yaitu menggeser posisi Suharto dan Habibie dari tampuk kekuasaannya ternyata telah diambil dan digantikan dengan oleh para borjuis demokrat (seperti Gus Dur, Mega, Amin Rais, Akbar Tandjung dan dsb) dengan politik parlementarisnya yaitu dengan memoderasi kesadaran massa rakyat yang kharismatik-emosional ke arah politik parlemen sehingga partisipasi politik rakyat hanya terjadi pada saat pemilu. Politik parlementaris dan kesadaran politik rakyat kharismatik-emosional seringkali dimanfaatkan oleh para teknokrat-teknokrat politik untuk mendapatkan legitimasi pada setiap kebijakan politik.  Kesadaran anti-kediktatoran yang timbul pada rakyat mengalami moderasai oleh para borjuis demokrat dan mereka bisa mengambil kepemimpinan di kesadaran massa rakyat tersebut.

Kelemahan Strategi Gerakan Mahasiswa

Beberapa penyebab gagalnya gerakan mahasiswa dalam mengambil kepemimpinan dikalangan massa rakyat dan berhasilnya para kaum borjuis demokrat mengambil kepemimpinan di massa rakyat adalah sebagai berikut;

Pertama; kekuatan politik borjuis demokrat telah mempunyai struktur organisasi, atau wadah-wadah untuk mendapatkan dukungan jauh sebelum Soeharto tumbang. Tumbangnya Soeharto semakin mempermudah para politisi dari kekuatan politik utama untuk mengokohkan wadah-wadah dan struktur organisasi yang dimiliki untuk memberikan dukungan politik. PDI Perjuangan misalnya mewarisi struktur organisasi PDI dan mendirikan posko dikampung-kampung untuk mengikat dukungan yang luas dari rakyat. PKB berbasiskan massa NU dan berbagai ormas yang berafiliasi dengan NU. PAN jelas mendapatkan dukungan luar dari ormas Islam Muhamadiyah yang tersebar luas diseluruh tanah air dengan berbagai ormas yang berafiliasi. Partai Golkar jelas menggunakan struktur birokrasi dan berbagai ormas yang berafiliasi dengan Partai Golkar selama 32 tahun. PPP adalah partai yang merupakan kelanjutan dari sistem politik Orba dan sudah mempunyai struktur berskala nasional.

Kedua; Terdapatnya Figur-Figur politik aliran sebagai hasil dari politik massa mengambang dari jaman orde  baru dan masih tertanamnya sisa-sisa feodalisme dikepala rakyat, dalam bentuk primodialisme dan kultus individu. Figur-figur politik mainstream ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai media massa, nasional dan internasional sebagai elit-elit politik nasional. PDIP mengorganisir primodilaisme pada diri Megawati Soekarnoputri dan Soekarnoisme untuk menarik dukungan yang luas. PKB mempunyai kyai kharismatik seperti Gus Dur, yang oleh warga NU sudah dikenal sebagai seorang wali. Amien Rais berhasil direkayasa oleh tim propaganda yang baik sebagai tokoh reformasi. Dan Akbar Tanjung yang dinilai memiliki pemikiran moderat dan mampu menjembatani friksi-friksi pada kekuatan Golkar dikondisikan oleh status quo untuk menghadang kekuatan reformis. Para elit politik inilah yang mengambil keuntungan optimal dari mundurnya Soeharto untuk kepentingan kelompoknya.

Ketiga; Kegagalan dari gerakan progresif-radikal yang dipimpin oleh mahasiswa dalam membuat wadah-wadah bagi rakyat, untuk menandingi wadah-wadah dan struktur organisasi yang sudah dimiliki oleh kekuatan politik utama (mainstream). Hasil-hasil mobilisasi selama menolak Sidang Istimewa gagal dipermanenkan menjadi wadah-wadah rakyat. Komite-komite aksi yang dibentuk, atau koalisi-koalisi yang dibuat oleh mahasiswa kalah dalam menghadapi kemampuan organisasi oposisi moderat dalam memberikan wadah bagi rakyat. Dengan tidak adanya wadah-wadah bagi rakyat, ketika momentum pemilu tiba, dengan mudahnya, partai politik utama, memasok kesadaran parlementarian kedalam kepala masa dengan saluran wadah-wadah yang mereka miliki dan alat-alat propangada yang mereka kuasai.

Keempat; kegagalan dari gerakan radikal yang dipelopori oleh mahasiswa untuk membangun suatu koalisi atau persatuan yang luas untuk menandingi kekuatan politik utama yang moderat. Sektarianisme yang akut ini menyebabkan kapasitas perlawanan untuk melawan dalam satu kesatuan aksi dan komando tidak terjadi sama sekali. Gerakan boikot pemilu sebagai hasil pertemuan mahasiswa nasional di Bali, tidak dapat menjadi kekuatan karena tidak ada  kesatuan aksi untuk memimpin suatu gerakan boikot pemilu.

Kelima; Kelompok progresif-radikal, sangat sedikit sumberdaya dan jangkauan propaganda organisasinya dibandingkan kekuatan politik mainstream, yang sudah membangunnya sejak jaman rejim Soeharto berkuasa. Kelompok prograsif dan radikal mahasiswa tidak berakar sampai ke bawah dan tidak mempunyai dukungan logistik yang kuat sehingga membuat kelompok ini tidak mempunyai kapasitas untuk menandingi  parpol mainstream. Betapapun militannya kerja-kerja gerakan mahasiswa, tetap saja kita tidak bisa berilusi akan mendapatkan dukungan jutaan orang bila struktur organisasi belum mempunyai pengaruh hingga di tengah-tengah kehidupan dan tempat tinggal massa.

Keenam; alat-alat dan produksi propanganda yang minim. Kekuatan politik mainstream, mempunyai dana logistik besar untuk mengorganisir kampanye dan menarik dukungan. Media massa mainstream juga berpihak pada mereka, karena itu pasokan ideologi mereka ketengah massa dapat ditemukan dimana-mana setiap hari, terus menerus tanpa henti. Di koran-koran besar hampir setiap hari PDI Perjuangan atau PKB dan Amien Rais jadi berita utama. Selama kampanye boleh dikatakan gerakan progresif-radikal ditenggelamkan oleh gelombang propaganda yang maha besar dari partai-partai mainstream. Kualitas alat-alat propaganda juga sangat maju. Radio dan televisi digunakan untuk memasok program-program dan memobilisasi dukungan politik. Tanpa produksi propaganda dan pengorganisiran propaganda, sulit bagi gerakan radikal untuk menyaingi partai-partai borjuasi yang kaya dana dan kaya materi dan jaringan propaganda.

Ketujuh; perlawanan-perlawanan ekonomis kaum buruh baik secara spontan maupun melalui wadah serikat buruh tidak berkembang secara meluas meskipun dalam suasana krisis ekonomi. Kondisi wadah-wadah perjuangan buruh yang ada seperti SBSI, FSPSI Reformasi, FNPBI. Padahal perlawanan-perlawanan ekonomi kaum buruh, yang ekonomis dan spontan sekalipun sangat penting untuk menjaga suhu politik tetap memanas. Perlawanan ekonomis dan spontan yang besar yang dapat mempengaruhi suhu politik, bukan pemogokan satu-dua pabrik saja. Kecilnya perlawanan buruh, membuat sektor ini kurang dapat menjadi penopang bagi pemanasan politik. Ini berbeda dengan tahun 1993-1994 ketika pemogokan-pemogokan kaum buruh yang masif, meskipun ekonomis dan spontan, tapi dia berhasil menjadi penjaga suhu politik yang efektif, atau menyeret kelas sosial lain untuk mendukung perjuangan kaum buruh, seperti aksi-aksi SMID dengan kaum buruh sepanjang tahun 1990-an.

Kekuatan Progresif-radikal

Pasca gerakan mahasiswa 1990-an seringkali grafiknya naik-turun dan belum ada signifikansi bagi perluasan kesadaran politik rakyat. Mobilisasi massa mahasiswa pada peristiwa Mei ’98, Semanggi I dan Semanggi II terlihat hanya sekedar merespon momentum. Keberhasilan menyeret massa rakyat pada momentum Semanggi I dan Semangi II tidak diikuti dengan pengambilan kepemimpinan politik sehingga tuntutan-tuntutan politik dan isu yang dibawa oleh gerakan mahasiswa diambil atau dicuri oleh para kaum demokrat borjuis. Persitiwa Semanggi I dan II memberikan contoh kepada kita bahwa menurunnya gerakan mahasiswa bukan karena represif rejim melainkan dimoderasi oleh kaum demokrat borjuis.

Momentum politik memang harus direspon walaupun lemahnya gerakan mahasiswa akan tetapi jika hal ini terus dilakukan maka akan kontra-prduktif bagi perubahan secara mendasar. Sikap demikian itu tidak terlepas dengan watak borjuis kecil kita sendiri yang ingin enaknya saja dengan tidak membuat momentum. Sebenarnya momentum dapat dirasakan dan diciptakan setiap hari. Jika kita terus mengabdi kepada momentum, tanpa ada pembangun organisasi, teori maupun ideologi maka gerakan mahasiswa akan terus terseret dengan kesadaran-kesadaran kaum borjuis demokrat yang mempunyai watak oposan loyal dan opurtunistik. Oposan loyal artinya mereka beroposisi terhadap pemerintahan tapi tetap loyal terhadap sistem (rejim) sehingga kesadarannya hanya sebatas penumbangan kekuasaan tapi tidak ada arah menuju pergantian sistem.

Kurun waktu 1990-an hingga saat ini gerakan mahasiswa mempunyai peranan dan posisi yang penting dalam pembangunan demokrasi di Indonesia. Yang menjadi fokus dan titik Perjuangan ekstra parlementer ketika parlemennya lemah adalah gerakan mahasiswa, mengapa?. Pertama, gerakan mahasiswa paling konsisten untuk melakukan perlawanan walapun ia terus terseok-seok. Gerakan pro demokrasi lainnya tidak mempunyai konsistensi yang jelas dalam perjuangan demokrasi. Kedua, gerakan mahasiswa sudah memberikan embrio perlawanan atau memberikan basis penumbangan kediktatoran Suharto. Hal ini merupakan investasi yang panjang bagi perjuangan rakyat ke depan. Ketiga, gerakan mahasiswa paling berhasil memberikan kesadaran politik kepada rakyat secara massal. Rakyat banyak belajar dari mahasiswa bagaimana melawan kediktatoran.

Dari ketiga item tersebut maka gerakan mahasiswa dapat menjadi kekuatan progresif-radikal. Dia mempunyai dua mata pedang; pertama, mahasiswa sebagai sebagai kekuatan yang mampu menghancurkan kesadaran palsu borjuis-borjuis demokrat karena posisinya mampu menerima-teori-teori revolusioner. Kemampuan ini dapat menjadi alternatif bagi perjuangan pembebasan rakyat. Posisinya yang paling siap untuk merespon kondisi obyektif atau perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat sehingga kekritisannya mampu memberikan wacana perubahan-perubahan di masyarakat. Kedua, kemampuannya ini dapat memberikan senjata filsafat dan teori bagi basis material perjuangan rakyat artinya rakyat menemukan senjata filsafatnya pada gerakan mahasiswa sedangkan mahasiswa menemukan senjata materialnya pada rakyat tertindas.

Pengorganisiran Mahasiswa

Saat ini kita menyadari bahwa didalam gerakan progresif-radikal kekurangan orang untuk melakukan pengorganisiran. Kita menyadari bahwa kita tidak bisa mengandalkan mobilisasi massa atau hanya merespon memopnetum. Perlawanan harus mulai dilakukan secara terorganisir dan tertib aksi. Mengorganisir maknanya adalah membangun pondasi-pondasi atau pilar-pilar demokrasi oleh karena itu merupakan kerja jangka panjang yang kadang mengorbankan waktu, dana maupun perasaan. Seorang organisir dapat dikatakan sebagai pekerja demokrasi bukan sekedar aktifis demokrasi. Sebagai pekerja ia akan membangun dan memberikan kesadaran politik lebih mendalam dimana propragandanya tidak hanya sekedar pada saat aksi-aksi belaka tapi menyediakan bagi rakyat sebuah wadah-wadah perjuangan. Dari wadah-wadah tersebut partisipasi politik rakyat disalurkan yang tidak hanya sekedar problkem ekonomis melainkan juga politis. Seorang organisir juga mendorong rakyat untuk menemukan kepelepora perlawanannya.

Tidak stabilnya gerakan perlawanan mahasiswa suatu bukti lemahnya pengorganisiran di tingkat mahasiswa (kampus). Selain itu kondisi subyektif mahasiswa yang cenderung ambivalen karena posisinya tidak pernah ikut menentukan secara langsung terhadap kebijakan ekonomi-politik dan juga tidak mempunyai relasi terhadap akses hubungan ekonomi. Kondisi subyektif ini semakin diperkuat oleh ; pertama, Sektarian organisasi mahasiswa yang masih kuat. Sektarian ini seringkali hanya terjadi pada tingkat teknis dan kadang-kadang tidak mampu melihat mana yang strategis dan mana yang taktis. Sektarian ini muncul karena merasa paling benar metode dan tuntutannya. Kedua, sulitnya terbangun koalisi atau front ditingkat mahasiswa. Fornt atau koalisi sering terbentuk seringkali karena siakp reaksioner dari keadaaan yang berubah tidak ada arahan kerja panjang serta konsistensinya dalam membangun front. Dan ketiga, mahasiswa tidak mempunyai akar pijakan dirakyat atau basis sosial padahal isu dan tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa tidak “murni” milik gerakan mahasiswa tapi juga milik buruh, tani, pengangguran atau kaum profesional pro demokrasi.

Menghadapi persoalan tersebut maka pengorganisiran di mahasiswa dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. Membangun Jaringan Kelompok Studi (KS) di Kampus. Jaringan KS ini memberikan maksud selain pengorganisiran juga meningkatkan perlawanan serta penyatuan serta kesamaan dalam teori, analisa maupun ideologi perjuangan. Jaringan KS ini untuk menjawab persoalan lemahnya teori-teori perlawanan di mahasiswa. Dengan KS akan dibangun perdebatan-perdebatan teori serta strateg—taktik perjuangan mahasiswa oleh karena itu KS harus mencari literatur-literatur dari berbagai sumber-sumber yang ada. Memang literaturl-literatur sulit ditemukan karena pembrangusan kekebasan akademika dan berpikir oleh rejim orde baru. Jika ini terbangun maka tidak sekedar meningkatkan kondisi subyektif mahasiswa tapi juga dapat melakukan counter hegomoni kekuasaaan.
  2. Membangun jaringan aksi. Dalam teori-teori revolusioner dikatakan bahwa tidak aktivitas revolusioner tanpa teori-teori revolusioner. Dari adagium ini memberikan maksud bahwa teori-teori yang dibahas dalam kelompok studi tidak akan ada artinya tanpa ada praktek untuk menguji kebenaran teori-teori yang kita diskusikan. Atau singkatnya teori membimbing praktek dan praktek menguji kebenaran teori. Jaringan aksi ini dapat dilakukan berupa selebaran, aksi massa dan pengorganisiran sektoral. Dengan jaringan aksi ini kita dapat mempropagandakan hasil-hasil analisa kita mahasiswa lain dan ke sektor rakyat lain. Jaringan aksi dapat berupa komite-komite aksi seperti AbrI atau FPM. Dari jaringan aksi ini merupakan uji materiil untuk perngoranisiran. Dengan aksi tersebut kita dapat mengetahui sejauh mana pengorganisiran mahasiswa dilakukan baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh karena itu jadwal aksi perlu dilakukan secara reguler. Tahap-tahap aksinya sebagai berikut: fakultas – kampus – antar kampus – kampus dan sektor rakyat lain. Dari setiap aksi-aksi yang dilakukan perlu dilakukan evaluasi yang serius agar tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan.

bagan 1

€    €    €          €  €     €              €     €      

STRUKTUR AGEN

Alat-alat Pengorganisiran

Seperti yang sudah dikatakan bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah pekerja demokrasi bukan aktivis demokrasi. Oleh karena itu setiap pekerja membutuhkan alat untuk merubah kondisi obyektif yang ada. Setiap organiser ataupun pekerja demokrasi akan mengalami kesulitan jika tidak mempunyai alat untuk merubah. Tapi yang perlu diingat bahwa setiap alat yang digunakan tidak sembarangan melainkan berdasarkan kondisi obyektif yang ada. Untuk menggemburkan tanah yang sudah keras maka buruh tani tidak akan menggunakan pacul biasa. Sebelumnya ia akan menggunakan pacul garpu dahulu agar rongga tanahnya agak longgar sehingga mudah dipacul dengan pacul biasa. Misalnya juga tanah yang hanya 2 Ha menggunkan mesin traktor untuk menggarap tanah. Kalau ini dilakukan maka banyak buruh petani yang tidak bekerja dan menjadi pengangguran.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan nyata maka alat-alat untuk mengorganisir antara lain;

  1. Selebaran, selebaran ini biasanya bersifat agitatif (mengajak) terhadap kondisi obyektif yang ada. Selebaran ini umumnya bersifat massal artinya diproduksi banyak. Isi atau kata-kata yang digunakan sebaiknya sederhana mungkin, jelas, tegas, mudah dimengerti dan sedikit analisa. Selebaran ini biasanya lebih menonjolkan tuntutan-tuntutan politik atau ekenomi daripada analisa dari tuntutan-tuntutan tersebut. Dalam penyebaran selebaran yang efektif maka digunakan struktur agen seperti yang sudah digambarkan sebelumnya. Kalau bisa penerima selebaran oleh para agen tercatat baik namanya, fakultas, angkatan, alamat, telepn/pager/hp-nya. Karena penerima selebaran akan menjadi calon agen selebaran, begitu dan seterusnya. Untuk menjamin kelanggengan penyebaran selebaran sebaiknya setiap selebaran dijual (biasanya dijual Rp. 100,00) karena uang tersebut akan digunakan lagi untuk mencetak selebaran selanjutnya.
  2. Terbitan, dalam gerakan revolusioner media/terbitan/bulettin merupakan organ yang penting bagi pembangunan kesadaran perjuangan mahasiswa. Karena dalam media massa ini akan memberikan arahan-arahan perjuangan dari apa yang harus kita lakukan baik strategi maupun taktik untuk mencapainya. Selain terbitan ini dapat digunakan menjadi alat pengorganisiran yaitu dengan membangun struktur agen. Kita dapat belajar perjuangan rakyat Iran (Ali Khoemeni) yaitu dimana setiap-setiap kantong massa terutama di masjid-masjid terdapat kaset-kaset pidatonya Ali Khoemeni. Dengan kaset tersebut mobilisasi massa daapt dilakukan sambil memberikan penyadaran politik. Struktur agen ini kalau bisa sampai ke unsur rakyat yang terkecil. Selain itu terbitan mahasiswa dapat menjadi alternatif bacaan bagi rakyat yaitu dijual secara umum. Struktur agen ini mempunyai tugas mencatat mahasiswa atau orang lain yang membeli terbitan sehingga kita tahu sampai sejauh mana terbitan kita diterima oleh massa. Untuk terbitan ini memang menjadi persoalan ditingkat gerakan mahassiwa karena terbenturnya dana serta kesulitan mahasiswa yang tingkat membacanya masih lemah. Terbitan ini berisi analisa-analisa dari selebaran-selebaran yang ada. Ia mempunyai fungsi propaganda dimana kemampuannya memberikan arahan strategi-taktik perjuangan.

Kualitas Organisir Mahasiswa :

  1. Mempunyai kemampuan agitasi-propaganda. Seorang organiser tidak hanya mampu mengagitasi (bahasa kerennya “memblejeti”) suatu kebijakan kampus atau pemerintah. Organiser tidak hanya sekedar mampu mempengaruhi atau mengajak mahasiswa untuk ikut dengan kita tapi juga memberikan arahan-arahan tentang apa yang harus kita lakukan dan pencapaiannya dari ide-ide yang kita miliki.
  2. Memiliki kesabaran. Dalam beberapa kasus pengorganisiran mahasiswa, seringkali kesalahan yang dilakukan adalah tidak sabar dalam melakukan pengorganisiran sehingga mereka cenderung pesimis dalam melakukan pengorganisiran. Banyak faktor subyektif yang menjadi penyebab, misal : capek, bosan, jenuh dan lain-lain.Tapi itu memang sebuah konsekwensi yang harus tetap kita jalankan sebagai seorang oragniser bila menginginkan terbangunnya sebuah basis.
  3. Kreatif. Untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam melakukan pengorganisiran maka sorang organiser dituntut untuk kreatif yang artinya kita diharuskan memiliki inisiatif-inisiatif baru agar jalannya organisasi dan pengembangannya selalu mengalami peningkatan.
  4. Mampu merespon kondisi massa. Pengembangan organisasi tidak akan bisa dilakukan apabila kita tidak mampu merespon kondisi atau tuntutan massa yang sebenarnya telah mengalami ereksi sehingga kita dituntut untuk selalu peka mengambil kepeloporan dalam kondisi massa yang seperti itu.
  5. Kedispilinan Revolusioner. Disiplin penyakit umum yang sering dialami oleh gerakan mahasiswa. Banyak kawan-kawan yang menyepelekan hal ini padahal kedispilinan sangat penting menjaga stamina gerakan. Disiplin ini meliputi disiplin waktu, administratif dan disiplin dalam kerja.
  6. Tertib Administratif. Dari hasil pengorganisiran maka yang terpenting adalah dokumentasi data. Dari data-data inilah dapat menjadi acuan bagi analisa gerakan mahasiswa tanpa data. Jadi rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan tidak akan ada gunanya tanpa ada data.

bagan 2

Entry filed under: Kuliah, Pergerakan. Tags: , , , , , , , , .

How Can Systematic Thinking Improve Our Lives?

1 Komentar Add your own

  • 1. PMII Komfeis  |  Juni 20, 2009 pukul 8:01 pm

    Mantap… namun praktik yang membumi menjadi PR kita bersama dimana basis kultur masing-masing kampus berbeda.

    Salam Pergerakan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


bieyas

kata-bias

bie_chat with me

Watch videos at Vodpod.

bie_tanggalan

Juni 2009
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

bie_arsip

Top Clicks

  • Tidak ada

bieyas

sing_nginceng

banner


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.